Tipe Belajar Pada Anak

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang

Belajar adalah “Learning is a process progressive behavior adaptation” (Skinner, 1958) Dari definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif. Ini berarti bahwa belajar akan mengarah pada keadaan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Dari proses belajar itulah setiap anak dapat mengambangkan diri dengan baik dan memperoleh pengetahuan yang akan membimbing mereka dalam menjalankan kehidupan mereka.

Pertanyaannya, apakah setiap anak mempunyai gaya atau pola atau cara belajar yang sama sehingga mereka dapat berkembang dengan baik dan meraih apa yang kita sebut dengan “kesuksesan” nantinya? Pada dasarnya cara atau gaya belajar dibagi menjadi tiga yaitu tipe visual, audiotori dan kinestesik.

Tujuan pembuatan makalah

Di dalam penulisan makalah ini ada beberapa tujuan, diantaranya adalah:

  1. Memberi pemahaman tentang apa itu belajar
  2. Memberi pemahaman tentang berbagai tipe-tipe belajar anak.
  3. Memberi strategi untuk mempermudah proses belajar anak

Metode pengumpulan data

Dalam mengumpulkan data, kami menggunakan metode pengambilan data secara sekunder, yaitu pengambilan data secara tidak langsung melalui informasi yang sudah ada seperti internet, dan berbagai macam buku.

BAB II

ISI

  1. A. PENGERTIAN BELAJAR

Skinner (1958) memberikan definisi belajar “Learning is a process progressive behavior adaptation”. Dari definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif. Ini berarti bahwa belajar akan mengarah pada keadaan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Disamping itu belajar juga memebutuhkan proses yang berarti belajar membutuhkan waktu untuk mencapai suatu hasil.
McGeoch (1956) memberikan definisi belajar “learning is a change in performance as a result of practice. Ini berarti bahwa belajar membawa perubahan dalam performance, yang disebabkan oleh proses latihan.
Kimble memberikan definisi belajar “Learning is a relative permanent change in behavioral potentiality occur as a result of reinforced practice. Dalam definisi tersebut terlihat adanya sesuatu hal baru yaitu perubahan yang bersifat permanen, yang disebabkan oleh reinforcement practice.
Horgen (1984) memberikan definisi mengenai belajar “learning can be defined as any relatively, permanent change in behavior which occurs as a result of practice or experience” suatu hal yang muncul dalam definisi ini adalah bahwa perilaku sebagai akibat belajar itu disebabkan karena latihan atau pengalaman.
Bertitik tolak dari hal tersebut diatas dapat dikemukakan beberapa hal mengenai belajar sebagai berikut:

  • Belajar merupakan suatu proses yang mengakibatkan adanya perubahan perilaku (change in behavior or performance). Setelah belajar individu akan mengalami perubahan dalam perilakunya. Perilaku dalam arti luas dapat overt behavior atau covert behavior. Karena itu perubahan itu daoat dalam segi kognitif, afektif, dan dalam segi psikomotor.

  • Perubahan perilaku itu dapat actual, yaitu yang menampak, tetapi juga dapat bersifat potensial, yang tidak menampak pada saat itu, tetapi akan nampak di lain kesempatan.

  • Perubahan yang disebabkan karena belajar itu bersifat relative permanen, yang berarti perubahan itu akan bertahan dalam waktu yang relative lama, tetapi di pihak lain perubahan tersebut tidak akan menetap terus menerus, hingga suatu waktu hal tersebut dapat berubah lagi sebagai akibat belajar.
  • Perubahan perilaku baik yang bersifat aktual maupun potensial yang merupakan hasil belajar, merupakan akibat dari latihan dan pengalaman.
  1. B. TIPE/GAYA BELAJAR

  1. 1. Visual : anak yang mempunyai cara belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka penghajar/gurunya untuk mengerti materi pelajaran.

Ciri-ciri:

Menyukai deskripsi, sehingga seringkali ditengah-tengah membaca berhenti untuk membayangkan apa yang dibacanya.

Mengeja         : Mengenali huruf melalui rangkaian kata yang tertulis
Menulis           : Hasil tulisan cenderung baik, terbaca jekas dan rapi.
Ingatan           : Ingat muka lupa nama, selalu menulis apa saja.
Imajinasi        : Memiliki imajinasi kuat dengan melihat detil dari gambar yang ada.
Distraktibilitas: Lebih mudah terpecah perhatiannya jika ada gambar.
Pemecahan     : Menulis semua hal yang dipikirkan dalam suatu daftar.
Respons terhadap periode kosong aktivitas: Jalan-jalan melihat sesuatu yang dapat

dilihat.
Respon untuk situasi baru: Melihat sekeliling dengan mengamati struktur.
Emosi              : Mudah menangis dan marah, tampil ekspresif
Komunikasi   : Tenang tak banyak bicara panjang, tak sabaran mendengar, lebih banyak

mengamati.

Penampilan :  Rapi, paduan warna senada, dan suka urutan.
Respon terhadap seni: Apresiasi terhadap seni apa saja yang dilihatnya secaramendalam dengan detil dan komponen, daripada karya secara keseluruhan.

  1. 2. Auditori : anak yang mempunyai cara belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakana.

Ciri-ciri:

Menikmati percakapan dan tidak memperdulikan ilustrasi yang ada
Mengeja : Menggunakan pendekatan melalui bunyi kata
Menulis : Hasil tulisan cenderung tipis, seadanya
Ingatan : ingat nama lupa muka,ingatan melaui pengulangan.
Imajinasi : Tak mengutamakan detil, lebih berpikir mengandalkan pendengaran.
Distraktibilitas : Mudah terpecah perhatiannya dengan suara.
Pemecahan : Pemecahan masalah melalui lisan.
Respons terhadap periode kosong aktivitas: Ngobrol atau bicara sendiri.
Respon untuk situasi baru:   Bicara tentang pro dan kontra.
Emosi : Berteriak kalau bahagia, mudah meledak tapi cepat reda, emosi

tergambar jelas melalui perubahan besarnya nada suara, dan

tinggi rendahnya nada.
Komunikasi : Senang mendengar dan cenderung repetitif dalam menjelaskan.
Penampilan : Tak memperhatikan harmonisasi paduan warna dalam

penampilan.

Respon terhadap seni: Lebih memilih musik. Kurang tertarik seni visual, namun siap berdiskusi sebagai karya secara keseluruhan,tidak berbicara secara detil dan komponen yang dilihatnya.

  1. 3. Taktil/Kinestetik : anak yang mempunyai cara belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat.

Ciri-ciri:

Membaca : Lebih memiliki bacaan yang sejak awal sudah menunjukkan adanya aksi.
Mengeja : Sulit mengeja sehingga cenderung menulis kata untuk memastikannya
Menulis :Hasil tulisan “nembus” dan ada tekanan kuat pada alat tulis sehingga

menjadi sangat jelas terbaca.
Ingatan : Lebih ingat apa yang sudah dilakukan, daripada apa yang baru saja

dilihat atau dikatakan.
Imajinasi : Imajinasi tak terlalu penting, lebih mengutamakan tindakan/kegiatan.
Distraktibilitas           : Perhatian terpecah melalui pendengaran
Pemecahan     : Pemecahan masalah melalui kegiatan fisik dan aktivitas.
Respons terhadap periode kosong aktivitas: Mencari kegiatan fisik bergerak.
Respon untuk situasi baru: Mencoba segala sesuatu dengan meraba, merasakan dan

memanipulasi.
Emosi              : Melompat-lompat kalau gembira, memeluk, menepuk, dan gerakan

tubuh keseluruhan sebagai luapan emosi.
Komunikasi   : Menggunakan gerakan kalau bicara, kurang mampu mendengar dengan

baik.
Penampilan    : Rapi, namun cepat berantakan karena aktivitas yang dilakukan
Respon terhadap seni: Respons terhadap musik melalui gerakan. Lebih memiliki

patung, melukis yang melibatkan aktivitas gerakan.

  1. C. STRATEGI MEMPERMUDAH PROSES BELAJAR

Di bawah ini ada beberapa strategi untuk mempermudah proses belajar anak:

Anak Visual:

  1. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
  2. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
  3. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
  4. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
  5. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

Anak Auditori:

  1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
  2. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
  3. Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
  4. Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
  5. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.

Anak Taktil/Kinestetik:

  1. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
  2. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
  3. Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
  4. Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
  5. Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan music

BAB III

 

PENUTUP

Kesimpulan

Sangat jelas kita ketahui bahwa proses belajar bagi anak sangatlah penting demi perkembangan diri mereka. Mengetahui bagaimana tipe/gaya belajar anak merupakan hal yang vital. Mengapa? Hal ini disebabkan jikalau kita salah atau bahkan tidak menentukan atau mengatehui tipe balajar seorang anak, maka daya tangkap atau proses masuknya informasi yang lamban dapat membuat usaha pengembangkan diri pada anak dapat terhambat atau bahkan gagal.

Memberikan strategi belajar sesuai tipe merupakan cara yang tepat sesuai tipe juga dapat mengambil peran yang penting dalam proses belajar ini. Jadi, amati setiap perilaku belajar anak lalu praktikkan strategi yang tepat maka dijamin semua akan baik-baik saja.

DAFTAR PUSTAKA

DR Reni Akbor Howodi Psi. Fok. Psikologi U1.

http://www.orangtua.org/?p=402

http://www.masbow.com/2009/07/pendapat-para-ahli-psikologi-dalam.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: