SISTEM PAKAR GANGGUAN KONVERSI

Salam . . . Kali ini saya akan coba membahas tentang masalah-masalah psikologis yang muncul dalam bentuk gangguan fisik atau yang biasa disebut dengan somatoform. Dalam gangguan somatoform ini ada beberapa jenisnya, tetapi untuk memfokuskannya kali ini kita akan coba bahas tentang salah satu jenisnya yaitu gangguan konversi. Oh ya, selain itu saya akan mencoba untuk mengkaitkannya dengan sistem pakar. Tampa membuang waktu mari kita mulai dengan penjelasan singkat tentang sistem pakar pakar?

A.    Sistem Pakar

1.      Pengertian

Secara umum, sistem pakar adalah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer yang dirancang untuk memodelkan kemampuan menyelesaikan masalah seperti layaknya seorang pakar. Dengan sistem pakar ini, orang awam pun dapat menyelesaikan masalahnya atau hanya sekedar mencari suatu informasi berkualitas yang sebenarnya hanya dapat diperoleh dengan bantuan para ahli di bidangnya. Sistem pakar ini juga akan dapat membantu aktivitas para pakar sebagai asisten yang berpengalaman dan mempunyai asisten yang berpengalaman dan mempunyai pengetahuan yang dibutuhkan. Dalam penyusunannya, sistem pakar mengkombinasikan kaidah-kaidah penarikan kesimpulan (inference rules) dengan basis pengetahuan tertentu yang diberikan oleh satu atau lebih pakar dalam bidang tertentu. Kombinasi dari kedua hal tersebut disimpan dalam komputer, yang selanjutnya digunakan dalam proses pengambilan keputusan untuk penyelesaian masalah tertentu.

2.     Ciri-ciri sistem pakar

a. Sistem pakar yang baik harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut :

b. Memiliki informasi yang handal.

c. Mudah dimodifikasi.

d. Dapat digunakan dalam berbagai jenis komputer.

e. Memiliki kemampuan untuk belajar beradaptasi.

3.      Keuntungan Sistem Pakar

Secara garis besar, banyak manfaat yang dapat diambil dengan adanya sistem pakar, antara lain :

a. Memungkinkan orang awam bisa mengerjakan pekerjaan para ahli.

b. Bisa melakukan proses secara berulang secara otomatis.

c. Menyimpan pengetahuan dan keahlian para pakar.

d. Meningkatkan output dan produktivitas.

e. Meningkatkan kualitas.

f. Mampu mengambil dan melestarikan keahlian para pakar (terutama yang termasuk keahlian langka).

g. Mampu beroperasi dalam lingkungan yang berbahaya.

h. Memiliki kemampuan untuk mengakses pengetahuan.

I Memiliki reabilitas.

j. Meningkatkan kapabilitas sistem komputer.

k.Memiliki kemampuan untuk bekerja dengan informasi yang tidak lengkap dan mengandung ketidakpastian.

l. Sebagai media pelengkap dalam pelatihan.

m. Meningkatkan kapabilitas dalam penyelesaian masalah.

n.  Menghemat waktu dalam pengambilan keputusan.

 

4.      Kelemahan Sistem Pakar

Di samping memiliki beberapa keuntungan, sistem pakar juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain :

a. Biaya yang diperlukan untuk membuat dan memeliharanya sangat mahal.

b. Sulit dikembangkan. Hal ini tentu saja erat kaitannya dengan ketersediaan pakar di bidangnya.

d. Sistem Pakar tidak 100% bernilai benar.

5.      Modul Penyusun Sistem Pakar

Menurut Staugaard (1987) suatu sistem pakar disusun oleh tiga modul utama yaitu :

a. Modul Penerimaan Pengetahuan (Knowledge Acquisition Mode)

Sistem berada pada modul ini, pada saat ia menerima pengetahuan dari pakar. Proses mengumpulkan pengetahuan-pengetahuan yang akan digunakan untuk pengembangan sistem, dilakukan dengan bantuan knowledge engineer. Peran knowledge engineer adalah sebagai penghubung antara suatu sistem pakar dengan pakarnya.

b. Modul Konsultasi (Consultation Mode)

Pada saat sistem berada pada posisi memberikan jawaban atas permasalahan yang diajukan oleh user, sistem pakar berada dalam modul konsultasi. Pada modul ini, user berinteraksi dengan sistem dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh sistem.

c.  Modul Penjelasan (Explanation Mode)

Modul ini menjelaskan proses pengambilan keputusan oleh system (bagaimana suatu keputusan dapat diperoleh).

6.      Struktur Sistem Pakar

Komponen utama pada struktur sistem pakar menurut Hu et al (1987) meliputi:

a. Basis Pengetahuan (Knowledge Base)

Basis pengetahuan merupakan inti dari suatu sistem pakar, yaitu berupa representasi pengetahuan dari pakar. Basis pengetahuan tersusun atas fakta dan kaidah. Fakta adalah informasi tentang objek, peristiwa, atau situasi. Kaidah adalah cara untuk membangkitkan suatu fakta baru dari fakta yang sudah diketahui.

b. Mesin Inferensi (Inference Engine)

Mesin inferensi berperan sebagai otak dari sistem pakar. Mesin inferensi berfungsi untuk memandu proses penalaran terhadap suatu kondisi, berdasarkan pada basis pengetahuan yang tersedia. Di dalam mesin inferensi terjadi proses untuk memanipulasi dan mengarahkan kaidah, model, dan fakta yang disimpan dalam basis pengetahuan dalam rangka mencapai solusi atau kesimpulan. Dalam prosesnya, mesin inferensi menggunakan strategi penalaran dan strategi pengendalian. Strategi penalaran terdiri dari strategi penalaran pasti (Exact Reasoning) dan strategi penalaran tak pasti (Inexact Reasoning). Exact reasoning akan dilakukan jika semua data yang dibutuhkan untuk menarik suatu kesimpulan tersedia, sedangkan inexact reasoning dilakukan pada keadaan sebaliknya.Strategi pengendalian berfungsi sebagai panduan arah dalam melakukan prose penalaran. Terdapat tiga tehnik pengendalian yang sering digunakan, yaitu forward chaining, backward chaining, dan gabungan dari kedua teknik pengendalian tersebut.

  1. Basis Data (Data Base)

Basis data terdiri atas semua fakta yang diperlukan, dimana fakta fakta tersebut digunakan untuk memenuhi kondisi dari kaidah-kaidah dalam sistem. Basis data menyimpan semua fakta, baik fakta awal pada saat sistem mulai beroperasi, maupun fakta-fakta yang diperoleh pada saat proses penarikan kesimpulan sedang dilaksanakan. Basis data digunakan untuk menyimpan data hasil observasi dan data lain yang dibutuhkan selama pemrosesan.

c. Antarmuka Pemakai (User Interface)

Fasilitas ini digunakan sebagai perantara komunikasi antara pemakai dengan komputer.

 

B.   Gangguan Konversi

 

1.      Pengertian Gangguan Konversi

Gangguan konversi adalah suatu tipe gangguan somatoform yang ditandai oleh kehilangan atau kendala dalam fungsi fisik, namun tidak ada penyebab organis yang jelas. Gangguan ini dinamakan konversi karena adanya keyakinan psikodinamika bahwa gangguan tersebut mencerminkan penyaluran, atau konversi, dari energi seksual atau agresif yang direpresikan ke simtom fisik.

2.      Penyebab Gangguan Konversi

a. Psikoanalisa:

Gangguan konversi disebabkan sebelumnya oleh stress yang berat, konflik emosional, atau gangguan kejiwaan yang terkait. Beberapa dari pasien gangguan koversi  memiliki gangguan kepribadian atau menampilkan sifat-sifat histeris. Penyebab gangguan konversi yang langsung biasanya mengalami peristiwa sangat menegangkan atau peristiwa trauma. Gangguan ini dapat dianggap sebagai usaha atau ekspresi psikologis  seseorang dari suatu masalah. Depresi dan gangguan psikologis lain sering terlihat pada pasien dengan gangguan konversi.

b. Teori belajar:

Pada anak-anak, gangguan konversi sering diamati karena adanya kekerasan fisik atau perilaku seksual. Anak-anak yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat gangguan  konversi lebih memungkinkan untuk menderita gangguan konversi. Selain itu, jika ada anggota keluarga yang sakit parah atau sakit kronis, anak-anak cenderung akan terpengaruh.

3.      Gejala dan Tanda

Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi :

a. Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter atau sensorik yang mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.

b. Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisit karena awal atau eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor lain.

c. Gejala atau defisit tidak ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura).

d. Gejala atau defisit tidak dapat, setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai perilaku atau pengalaman yang diterima secara kultural.

e. Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan pemeriksaan medis.

f. Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan dengan lebih baik oleh gangguan mental lain.

Seperti dengan gejala-gejala gangguan fisik yang terjadi di somatisasi, gejala gangguan konversi dapat sangat mengganggu dan dapat menempatkan individu berisiko untuk biaya dan komplikasi dari perawatan medis atau bedah yang tidak perlu. masalah fisik sebenarnya dapat hasil dari gejala konversi, misalnya, kontraktur atau atrofi tidak digunakan yang berhubungan dengan kelumpuhan konversi. Sejumlah faktor telah tercatat predisposisi perkembangan gangguan konversi, termasuk gangguan somatik pendahuluan, paparan kepada orang lain dengan gejala fisik, stres psikososial yang parah, dan gangguan kepribadian munafik dan tergantung.Pendahuluan sejarah trauma, penyalahgunaan, dan disosiasi telah sangat terkait dengan gejala konversi, khususnya pseudoseizures.

 

4.      Diagnosis Diferensial

Diagnosis diferensial merupakan diagnosis yang berupa penyakit somatic. Penyakit somatic adalah berupa gangguan psikologis,hal ini menyebabkan timbulnya diagnosis lain tentang suatu penyakit yang    diderita pasien.Karna keluhan yang diderita pasien dengan penyakit somatic hampir sama dengan pasien dengan penyakit biasa.Penyakit ini dapat ditentukan konversinya  cahaya dalam seseorang dengan “kebutaan” atau “anestesi stocking-sarung tangan,” yang mati rasa pada kaki atau tangan lengkap dan tajam dipisahkan di pergelangan tangan atau kaki daripada sesuai dengan distribusi sensorik saraf.

Bahkan ketika sebuah gangguan somatik tidak dapat diidentifikasi, diagnosis gangguan konversi tidak boleh dilakukan kecuali ada juga jelas bukti bahwa gejala melayani fungsi psikologis. Konversi gejala dapat terjadi sebagai salah satu komponen dari gangguan somatisasi. Ketika ini terjadi, diagnosis gangguan konversi tidak dilakukan. gangguan Konversi adalah umum pada pasien dengan gangguan identitas disosiatif dan kadang-kadang yang terjadi pada pasien dengan skizofrenia.

5.      Gambaran Klinik

Seseorang dengan gangguan konversi sering memiliki tanda-tanda fisik tetapi tidak memiliki tanda-tanda neurologis  untuk mendukung gejala mereka.

a. Kelemahan

Kelemahan biasanya melibatkan seluruh gerakan daripada kelompok otot tertentu. Kelemahan  pada kaki lebih sering di bandingkan pada mata, wajah atau gerakan servikal. Dengan menggunakan berbagai teknik klinis, kelemahan satu anggota tubuh dapat diperlihatkan untuk menyebabkan kontraksi yang berlawanan dengan beberapa otot tertentu .

b. Gangguan fungsi sensorik

Kehilangan sensorik atau distorsi sering tidak sesuai ketika di uji lebih dari satu kali dan bertentangan dengan saraf perifer dan distribusi asal

c. Gangguan fungsi visual

Gejala visual  dapat meliputi diplopia, triplopia, cacat bidang, dan kebutaan bilateral terkait dengan refleks pupil yang masih utuh.

d. Gangguan gaya berjalan

1) Astasia-abasia adalah gangguan koordinasi motorik ditandai dengan ketidakmampuan untuk berdiri walaupun kemampuannya normal untuk menggerakkan kaki ketika berbaring atau sedang duduk.

2) Pasien dapat berjalan dengan normal jika mereka berpikir mereka tidak sedang diamati.

3)  Terkadang bila sedang di amati, pasien secara aktif berusaha untuk jatuh. Hal  ini bertentangan dengan pasien dengan penyakit organik yang akan berusaha untuk melindungi diri sendiri.

4) Pseudoseizures

5) Selama serangan, ditandai keterlibatan otot-otot truncal dengan opistotonos dan kepala atau badan berputar ke arah lateral. Semua 4 tungkai mungkin menunjukkan gerakan meronta-ronta , yang mungkin akan meningkatkan intensitas jika pengekangan diterapkan.

6) Sianosis jarang terjadi kecuali pasien  dengan sengaja menahan nafas mereka.

7) Menggigit lidah atau inkontinensia jarang terjadi kecuali pasien memiliki beberapa tingkat pengetahuan medis tentang penyakit.

8) Ini Berbeda dengan kejang yang sebenarnya, pseudoseizures terutama terjadi di hadapan orang lain dan bukan ketika pasien sendirian atau tidur.

 

6.      Kriteria DSM-IV-TR

a. Satu simtom atau lebih yang memmengaruhi fungsi motorik dan sensori serta mengindikasikan kondisi neurologis atau medis

b. Simtom mempunyai keterkaitan dengan konflik dan stres

c. Simtom tidak terjadi dengan disengaja dan tidak dapat dijelaskan secara medis

7.      Penatalaksanaan

Yang terpenting dalam penatalaksanaannya yaitu bisa  menerima gejala pasien sebagai hal yang nyata, tetapi dapat menjelaskan bahwa itu hal itu bersifat reversible. Dan diupayakan untuk dapat kembali ke fungsi semula secara bertahap. Dalam beberapa kasus, pasien mungkin mulai sembuh secara spontan. Setelah penyebab fisik untuk gejala telah dikesampingkan, pasien dapat mulai merasa lebih baik dan gejala mungkin mulai memudar. Dalam beberapa kasus, pasien mungkin membutuhkan bantuan dalam pemulihan dari gejala mereka. Pilihan pengobatan dapat mencakup hal berikut:

a. Konseling dan psikoterapi

Membahas permasalahan dengan seorang konselor dapat membantu  mengatasi penyebab yang mendasari gejala fisik. Di  lanjutan dengan  belajar cara menangani stres sepanjang hidup juga penting, karena sekitar 25% dari pasien dengan gangguan ini sering mengalami episode masa depan.

b. Terapi farmakologi

Digunakan dalam beberapa kasus, antidepresan juga dapat digunakan untuk mempercepat pemulihan. Penelitian telah menunjukkan bahwa antidepresan dapat membantu pasien dengan gangguan konversi.

Pasien mungkin membutuhkan terapi untuk mengatasi tidak digunakannya anggota badan, misalnya, dan untuk mempelajari kembali perilaku normal.

8. Rancangan Sistem Pakar

SUMBER

http://smartkhoir.blogspot.com/2009/04/gangguan-somatoform-dan-disosiatif.html

http://psikosomatik-rsgm.blogspot.com/2008/03/gangguan-somatoform.html

http://jinggasuci.blogspot.com/2011/05/terapi-untuk-gangguan-somatoform.html

http://daisyryana.blogspot.com/2010/09/gangguan-konversi.html

http://blog.re.or.id/ciri-ciri-sistem-pakar.htm

http://sistem-pakar-universitas.blogspot.com/2011/10/ciri-ciri-sistem-pakar.html

http://blog.uin-malang.ac.id/ahmedmiezmar/2010/10/01/kecerdasan-buatan/

http://gaptechnology.wordpress.com/2010/03/10/definisi-sistem-pakar/

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=sistem+pakar+MYCIN&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CBwQFjAA&url=http%3A%2F%2Fxa.yimg.com%2Fkq%2Fgroups%2F34141589%2F1005094711%2Fname%2F5.SISTEM%2BPAKAR1.doc&ei=RoGWUJPAEYrMrQe9rICoDw&usg=AFQjCNHs1CPr4YIbXB4Ib4NGVsb1YThhEw

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=sistem+pakar+MYCIN&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CBwQFjAA&url=http%3A%2F%2Fxa.yimg.com%2Fkq%2Fgroups%2F34141589%2F1005094711%2Fname%2F5.SISTEM%2BPAKAR1.doc&ei=RoGWUJPAEYrMrQe9rICoDw&usg=AFQjCNHs1CPr4YIbXB4Ib4NGVsb1YThhEw

http://robikanwardani.blogspot.com/2011/11/gangguan-somatoform-dan-disosiatif.html

http://drhasto.blogspot.com/2011/09/gangguan-somatoform.html

Davison, G. C., Neale, J. M., & Kring, A. M. (2010). Psikologi abnormal (Edisi ke 9). Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: