MBA = Married by Accindent

Mungkin kita pernah atau bahkan sering mendengar istilah Married by Accident (MBA). Ya, istilah ini bisa dibilang cukup “populer”  di masyarakat, khususnya pada kalangan remaja. Tapi, apakah MBA itu sebenarnya? Secara gamblang dapat kita artikan secara “kasar” MBA adalah menikah karena “kecelakaan”/tidak sengaja. Selain pengertian MBA di atas, ada banyak sekali pendapat-pendapat tentang pengertian MBA ini, ada yang menyebutkan hamil di luar nikah, hubungan di luar nikah, dan lain sebagainya. Sebenarnya semua pengertian di atas itu benar, MBA adalah pernikahan yang terjadi akibat adanya hubungan yang “dilarang” yang dilakukan oleh 2 orang (pria dan wanita) tanpa ada status yang resmi/sah.

Kasus MBA ini memang bisa terjadi pada siapa saja tetapi biasanya kasus ini banyak terjadi pada usia remaja (remaja awal – remaja akhir). Mengapa? Banyak faktor yang mendorong/mendukung sehingga dapat terjadinya Married by Accident ini. Salah satu faktornya adalah pergaulan bebas. Pergaulan bebas yang merebak di kalangan remaja ini bisa dibilang sebagai faktor utama MBA. Sifat khas pada usia remaja yaitu ingin mencoba hal baru juga menjadi “bensin” bagi merebaknya pergaulan bebas. Pendidikan agama dan moral yang kurang dari orang tua/guru pun ikut ambil peran dalam hal ini.

“Setiap sebab pasti ada akibatnya”, mungkin ini adalah kata yang cocok untuk kasus MBA ini. Mengapa? Ya, banyak sekali akibat yang disebabkan oleh MBA ini, jelas pas ti akibat buruk yang ditimbulkan. Hal pertama yang ditimbulkan dari MBA ini adalah rasa malu. Rasa malu bagi si “pelaku”, bagi keluarganya , bagi teman-temannya, dll. Efek/akibat MBA ini seperti domino, 1 efek menyebabkan timbulnya efek-efek lain. Rasa malu yang timbul, dapat menimbulkan dampak frustasi bagi si “pelaku” yang dapat mendorong tindakan bunuh diri jika tingkat frustasi sudah sangat tinggi.frustasi ini disebabkan oleh tekanan yang dialami oleh “pelaku” entah itu tekanan dari diri sendiri maupun dari luar/orang lain di sekitarnya. Akibat yang kedua, dikucilkan dari masyarakat dan mungkin keluarga.efek pengucilan ini lah salah satu faktor yang membuat si”pelaku” merasa tertekan dan akhirnya memicu tindakan-tindakan lain. Lalu yang ketiga adalah KDRT. Kenapa KDRT termasuk akibat dari MBA ini? jawababnya adalah ketidak siapan. Benar, ketidak siapan si “pelaku” ini untuk menjalani apa yang sehaurnya belum waktunya mereka jalani, semua tanggung jawabnya, tuntutanya, resikonya, dll. Ketidak siapan mental si “pelaku” untuk menjalani kehidupan berkeluarga ini adalah faktor utama KDRT ini terjadi.

Menyalahkan si “pelaku” atau orang-orang yang seharusnya “mengarahkan” mereka agar tidak terjerumus atas semua akibat yang terjadi merupakan tindakan yang sangat tidak bijak. Bukan permasalahan tentang siapa yang salah, tetapi kita harus mempermasalahkan cara bagaimana agar kita bisa “menuntun” dan membimbing mereka pasca MBA agar dapat menjalani kehidupannya lagi bagaimanapun juga dan membantu agar mereka dapat diterima kembali beserta “kekurangannya”.

“Berfikirlah panjang sebelum bertindak, karena semua resikonya diri sendirilah yang menanggung”

1 Komentar (+add yours?)

  1. PAPER OF MARRIED BY ACIDENT | reginalombone
    Feb 01, 2013 @ 04:32:18

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: