ENTREPRENEUR

Limbah Akar Jati pun Jadi

Sejumlah pekerja terlihat membelah kayu yang sudah kering. Bentuk kayunya agak sedikit berbeda, tidak batangan, namun merupakan bagian paling bawah dari pohon jati yang masih terdapat akarnya. Raungan gergaji mesin menderu, membelah bagian atas bonggol kayu yang lebar untuk dijadikan beberapa lempengan. Tak masalah jika terkadanga lempengan yang dihasilkan berlubang justru lebih terlihat alami.

Adapun akar-akar kayu yang masih semburat dipilih-pilih, dibiarkan terlihat alami. Sebagian akar yang terpaksa harus dipotong dan dikumpulkan untuk dirangkai menjadi berbagai asesoris dan perkakas rumah tangga. Beberapa orang lainnya tampak sibuk melakukan proses pengahalusan akar kayu yang hendak di bentuk menjadi meja. Hasil akhirnya biasanya bagian atas meja diberi alas kaca.

Bagi yang baru melihatnya, hasil akhir dari produksi tersebut terlihat unik namun indah, sedikit mengandung unsur seni. Orang di sana menyebut kerajinan dari akar kayu jati itu dengan istilah “gambol”. Membuat gambol itulah kesibukan rutin tiap hari bisa dijumpai di bengkel Sutanto (43 tahun) tepatnya di desa Meduri kecamatan Margomulyo Bojonegoro. Bapak dua anak ini menekuni hasil usaha kerajinan tersebut sejak tahun 2006. Bermula coba-coba membuat meja dan kursi tanpa diduga, produk yang dipajang di depan rumahnya diminati dan dibeli orang.

Melihat peluang itu Sutanto nekat menjual mobilnya seharga Rp21 juta untuk mengembangkan usahanya. Ia pun mulai mempekerjakan beberapa remaja di desanya untuk membuat prabot rumah dengan akar kayu jati. Setelah beberapa tahun berjalan disimpulakn bahwa kerajinan akar kayu jati memiliki pangsa pasar yang luas. Buktinya Santoso tidak kesulitan memasarkan produknya. Asalkan produk yang dibiat terlihat alami dan unik, maka dengan sendirinya akan di cari orang.

Pada usaha ini modal utamanya adalah ketekunan, dan kreativitas katanya. Bayangkan dari limbah akar jati ini, Sutanto yang kini di bantu oleh karyawannya mampu membuat berbagai produk kerajinan rumah tangga hingga jenisnya mencapai 150 model. Tak mengherankan bengkel milik Sutanto terlihat ramai dari pada bengkel miilik warga lainnya yang menekuni usaha sejenis.

Permintaanpun semakin bertambah bahkan datang dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali. Tak jarang dia terlambat memenuhi pesanan karena kehabisan stok bahan baku yang bisa didapat dari dalam hutan.

Diekspor

Untuk menghasilkan produk yang bagus terkadang akar jati tersebut sengaja dibiarkan terpapapn hujan dan terik matahari agar menjadi kering secara alami. Setelah tahapan tersebut bongkahan akar itui dipotong-potong sesuai disain dan dibentuk menjadi perabot rumah tangga (terutama mebel). Untuk tiodak mengecewakan pelanggan, Sutanto setiap hari harus berkreasi membuat berbagai bentuk dan memprosesnya sesuai pesanan.

Setiap kerajinan yang dibuat Sutanto itu bebrbentuk unik bahkan tidak jarang adajuga yang dibiarkan dibuat setengah jadi. Untuk barang yang terakhir ini biasanya dipesan oleh perusahaan mebel besar untuk kebutuhan ekspor. Di tengah keterbatasan dan meski diproduksi di pelosok desa, kerajinan dari limbah kayu ini sudah cukup mendunia.

SUMBER: Koran MEDIA INDONESIA (7/11/10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: